DESAIN RUMAH TROPIS


desain bangunan tropis

Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga nenek moyang kita dapat menerapkan konsep bangunan yang begitu maksimal terhadap bangunannya. Mereka amat memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya, bukan hanya faktor kenyamanan saja tapi nilai estetika bisa kita rasakan dibeberapa sudut ruang baik interior atau eksteriornya.
Bahan yang digunakan juga kalau kita perhatikan sepertinya hasil pilihan yang terbaik yang ada di daerahnya. Teknis pengerjaan sangat dituntut ketelitian dan keahlian. Pemilihan warna yang sepertinya tetap konsisten dengan warna-warna alam. Urutan ruang terbentuk akibat aktivitas sipemilik bangunan tersebut, demikian pula dengan tinggi rendahnya ruang ini sangat berkaitan dengan kondisi sipemilik saat itu.

Jika kita simpulkan dari hal-hal diatas, sebenarnya bangunan tradisional kita adalah acuan yang paling sesuai untuk menggambarkan bagaimana bangunan Tropis itu.
1. Atap yang sebagian besar berbentuk runcing keatas, walaupun ada pula yang melengkung.
2. Memiliki overstek, yang berfungsi untuk menjaga tempias dan cahaya berlebihan.
3. Banyak bukaan-bukaan, baik jendela atau lobang-lobang angin.
4. Banyak menggunakan material alam, seperti: Kayu, Batu, bambu, dll.
5. Dinding, Lantai, dll biasanya menggunakan warna-warna alam.
6. Tumbuh-tumbuhan, Air, dll disekitar bangunan sedapat mungkin didesain agar menjadi satu kesatuan dengan bangunan.
7. Ukuran dan tataruang bangunan disesuai dengan kebutuhan.
8. Memaksimalkan pengudaraan dan pencahayaan alami.

Apalagi Karya Stefani F. Hasan patut mendapat perhatian karena memiliki ciri khas berupa bidang-bidang besar dengan volume yang lapang, menjadikan rumah tinggal di kawasan Pantai Ancol ini terlihat kokoh dan lugas. Atapnya datar terbuat dari plat beton dengan dinding beton sebagai penopang. Bahkan sebagian bidang lantainya dijadikan tempat menggantungkan langit-langit. Bahan bangunan reguler dipakai secara kreatif sehingga terlihat putus-sambung namun tetap mendukung kenyamanan sebuah bangunan tinggal yang berada di iklim tropis.

Bukaan tersedia di setiap penjuru rumah, bahkan ada permintaan khusus dari pemilik rumah untuk menerapkan ruang-ruang yang tembus pandang supaya jangkauan visual tetap luas dan menembus batas ruang. Permintaan ini diluluskan oleh Stefani dengan membuat dinding semi transparan yang membingkai inner courtyard sementara ruangan-ruangan yang mengelilinginya diberi dinding tembus pandang. Sebagai contoh adalah kamar tidur pemilik rumah. Di kamar ini dibuat dinding kaca tembus pandang yang lebar sehingga pemandangannya mencapai ruangan keluarga, inner courtyard dan ruangan makan di seberangnya, padahal posisi kamar tidur utama tersebut masih dibatasi ruangan tangga. Maka itu sisi dinding tangga yang menghadap ke inner courtyard pun memakai kaca tembus pandang juga.

Menurut Stefani konsep rancangan rumah ini digubah sesuai dengan karakter pemilik rumah yang masih muda, dinamis dan fleksibel. Tanpa ragu diciptakannya permainan tinggi rendah plafon, naik turun lantai serta volume ruang yang saling berbeda dalam rangka mengatasi iklim lembap di sekitar pantai. Pengaturan berbagai perbedaan ketinggian dan volume tersebut tercipta melalui tangga yang juga berfungsi menciptakan suasana keterbukaan seraya memperkuat orientasi ke inner courtyard. Menurut Stefani tangga ini digubah berdasarkan fengshui yang mengatur jumlah anak tangga. Dari situ terjadilah berbagai volume ruang yang berbeda.

Permukaan lantai mula-mula ditinggikan untuk ruangan tempat duduk tamu. Setelah itu ditinggikan lagi untuk ruangan tempat duduk keluarga, kamar tidur tamu, dapur bersih, ruangan makan dan dapur kotor. Kemudian ditinggikan lagi agar mencapai tangga dengan bordes lebar untuk mencapai kamar tidur utama, selasar dan kamar tidur anak-anak. Sementara itu dari lantai ruangan tempat duduk tamu dibuka sirkulasi ke lantai servis dan garasi.

Karakter bangunannya yang lugas dan kokoh terlihat dari dinding yang tebal dan ukuran pintu yang besar. Meskipun wanita, Stefani tidak ragu bermain dengan karakter yang maskulin seperti itu. Di pihak lain, bangunan di wilayah dekat pantai memang sebaiknya arsitek mengantisipasi datangnya banjir, badai, angin atau penurunan tanah, di samping korosi dan kelembaban yang tinggi.

Gaya Arsitektur untuk bangunan-bangunan komersial dan non komersial di Indonesia pada umumnya di era tahun 2007 sampai saat ini, apabila kita perhatikan terutama di pusat-pusat kota besar, maka kita akan dapat menyimpulkan bahwa Trend atau kesukaan pasar pada masa tersebut banyak mengarah kepada gaya yang dielu-elukan para perancang bangunan yaitu sebagai Arsitektur Minimalis.
tapi Gaya Arsitektur Minimalis ini banyak orang yang menyalah artikan, sehingga pada kenyataannya membiaskan gaya arsitektur yang memang memiliki ciri atau karakter sendiri, karena banyak orang yang medefinisikan Arsitektur Minimalis itu dari sekedar warna dan ornamen yang digunakan, contoh: warna abu-abu, motif garis-garis horizontal, genteng tipe flat, kusen gundul, dll.
Memang ciri ini tidak salah, namun ciri ini sebenarnya kalau kita coba telusuri bersama maka kita pada akhirnya akan menganggap bahwa arsitektur minimalis itu sebagai kesimpulan semua gaya arsitektur. Karena bisa saja Gaya Arsitektur Jawa misalnya, apa bila diberi sentuhan warna dan ornamen yang tadi disebutkan, maka kita akan menganggap itu adalah arsitektur minimalis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s